Review Foxtrot Six: Film Sci-fi Action Thriller Indonesia yang Futuristik Habis! - KPOPULER.COM

Tuesday, March 10, 2020

Review Foxtrot Six: Film Sci-fi Action Thriller Indonesia yang Futuristik Habis!




Kpopuler.com - Ngomongin kualitas film Indonesia, beberapa tahun sepuluh tahun terakhir ini sudah mengalami perkembangan yang sangat signifikan, bukan hanya dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas. Beberapa film indonesia bisa diterima oleh masyarakat international dan membawa berkah bagi para pelaku industrinya, sebut saja alumni The Raid nama-nama Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang sering kita lihat akhir-akhir ini terlibat dalam film-film Hollywood.

Trailer FIlm Foxtrot Six

Demikian juga film yang akan kita bahas kali ini, dengan semangat yang sama sengaja diproduksi untuk kualitas dan pasar international, walau untuk ukuran Indonesia temanya bisa dibilang terlalu futuristik sesuatu yang baru. Judul filmnya Foxtrot Six debut penyatradaraan Randy Korompis dengan naskah yang juga ditulis olehnya. Jajaran produser Mario Kassar, Randy Korompis, Guillaume Catala, Henry Djunaedi, Wanyi Hindrawan Pratiknyo dan Andreas Ian Tika membawa embel-embel produser hollywod film Terminator 2: Judgment Day dan Manoj Punjabi dibawah naungan rumah produksi MD Entertainment dan Rapid Eye Pictures. 

ads

Pemeran
Tak tanggung-tanggung dengan buget yang kabarnya hingga 70 milyar, film dengan latar Indonesia 2031 ini dibintangi nama-nama besar aktor dan aktris di tanah air. Diantaranya Oka Antara sebagai Angga, Verdi Solaiman sebagai Oggi, Chicco Jerikho sebagai Spec, Rio Dewanto sebagai Bara, Arifin, Putra sebagai Tino, Mike Lewis sebagai Ethan, Miller Khan sebagai Indra, Edward Akbar sebagai Wisnu, Julie Estelle sebagai Sari Nirmala, Norman R. Akyuwen sebagai Aula, Cok Simbara sebagai Soeganda, Godfred Orindeod sebagai Gecko, Willem Bevers sebagai Presiden Barona, Aurélie Moeremans sebagai Sersan Raya, Ario Prabowo sebagai Hengky.

Jalan Cerita
Di masa depan distopia futuristik yang tidak jauh, perubahan iklim global telah membuat ekonomi dunia kacau. Hampir seluruh negara di Bumi mengalami kekacauan, tidak hanya negara-negara Eropa dan Amerika, Indonesia pun terkena imbasnya. Kekacauan ekonomi tersebut membuat bahan pangan semakin susah didapatkan karena harga yang tinggi dan makanan dianggap sebagai komoditas yang sangat berharga. Adanya krisis ini menyebabkan maraknya kriminal dan gerakan pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Barona (Willem Bevers) dari golongan rakyat kecil. 

Parlemen dan Presiden Indonesia ada dalam cengkeraman partai politik korup dan jahat bernama Piranas yang membuat keadaan makin tidak terkendali. Piranas lewat elite-elite oligarkisnya berusaha memanfaatkan keadaan global yang sedang memanas dan kacau tersebut demi keuntungan politik mereka dan memonopoli distribusi pangan di Indonesia.

Seorang eks pasukan komando marinir bernama Angga Saputra (Oka Antara) yang kini juga menjadi anggota parlemen di Piranas ditugaskan untuk menjaga moral dan kepatuhan rakyat Indonesia. Karena pengalaman militernya, Angga ditugaskan Piranas untuk menyusup ke kelompok pemberontak bawah tanah yang menjuluki diri mereka sebagai Reform. Saat bertugas, 




Angga tiba-tiba disergap dan ditawan oleh kelompok Reform. Ketika ditawan, Angga bertemu kembali dengan Sari Nirmala (Julie Estelle), tunangannya yang dikiranya sudah meninggal namun kini tergabung dalam Reform. Angga akhirnya mengetahui bahwa Piranas telah membohongi dan memanipulasi rakyat lewat cara-cara kotor, mengekspor bahan makanan ke luar negeri demi keuntungan sepihak dan mengorbankan kesejahteraan rakyat. Ketika markas Reform diserbu tentara bayaran Piranas yang dipimpin pembunuh misterius yang berteknologi tinggi (Godfred Orindeod), Angga memilih untuk melarikan diri dan menyelamatkan Sari beserta orang-orang lainnya. Kini diburu oleh tentara bayaran Piranas sebagai pengkhianat, 

Angga kembali menjalin hubungan dengan Sari dan mengetahui bahwa ternyata Angga mempunyai seorang putri dari Sari. Demi melindungi Sari dan putrinya, Angga mengumpulkan empat mantan rekan tim komando lamanya yaitu Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), Ethan (Mike Lewis), Tino (Arifin Putra), ditambah seorang pemburu misterius bernama Spec (Chicco Jerikho). Mereka berenam bekerja sama untuk membongkar rencana jahat kelompok Piranas yang berusaha mengendalikan rakyat Indonesia dengan kemiskinan dan kelaparan. (Wikipedia)

Review
Sebuah tema baaru di film indonesia, walau kalau dilihat dari kategori film aksi The Raid, The Night Come for Us atau Headshoot masih lebih bagus dari sisi aksi, tapi tenang saja koreografinya tetap menjanjikan untuk ditonton.

Menggunakan bahasa Inggris sepanjang film karena memang direncanakan akan tayang untuk pasar global, itu sebabnya hingga setahun sejak penayangan di bioskop indonesa yaitu 21 Februari 2019 kita belum bisa menikmatinya di aplikasi video on demand atau televisi nasional. 

Dan alasan review ini ditulis sekarang, karena berbarengan dengan rilis secara internasional dari berbagai poster yang berseliweran di Twitter akan rilis di Amerika tanggal 14 April 2020 dan ada pula poster versi Korea dan Jepang, keren. 




Dengan budget yang besar, rumornya 70 milyar produser dan tim CGI dari Hollywood efek-efek visual yang disajikan tidak terlalu kasar. Sinematografi Ical Tanjung juga cukup enak dinikmati, hanya saja kadang beberapa transisi adegan ujuk-ujuk saja dan kurang greget.

Hal yang mencuri perhatian saya sejak awal adalah koregrafi pertarungannya, bagaimanapun ini adalah film aksi tentu point koreo pertarungan salah satu kunci. Signatur perkelahiannya familiar banget dan benar saja di credit title saya menemukan tim koreografi by Uwais Team, iya tim koreo Iko Uwais jadi wajar jika pergerakan-pergerakan yang ditampilkan tidak asing dan tetap asyik dinikmati dengan pengalaman mereka di 22 Miles, Wu Assasin, Headshoot dan Hit & Run.

Secara keseluruhan film ini bagus dan potensial mendobrak tema film laga di Indonesia, semoga ada sekuelnya atau bisa juga prekuel yang menceritakan masa-masa team six ini saat masih bersama menjadi tentara khusus karena capaian jumlah penontonnya cukup bagus 557 ribu selama tayang di bioskop indonesia februari tahun 2019 lalu.

Kesimpulan oke untuk ditonton, bagi kamu yang ketinggalan nonton di Bioskop tunggu saja rilis di aplikasi video on demand atau tv nasional ya. Nanti kita update kalau sudah ada infonya. Semoga bermanfaat sampai jumpa.

penulis: Nandar

Bagikan artikel ini

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :